Sejarah Indonesia-Pahlawan Dari Pangkep
ANDI MAPPE
Andi mappe, pejuang asal pangkajene kepulauan (pangkep).sebuah kalimat yang sangat menginspirasi para pejuang dari tanah Sulawesi untuk melawan belanda dari seorang andi mappe “ulebbirangngi burue ala najajae balandae, teasisena mitai balandae” (lebih baik saya ini mati berkalang tanah daripada dijajah belanda.saya tidak akan pernah rela melihat belanda disini). Ucapan diatas adalah kata-kata andi mappe kepada anggota pasukannya, syamsuddin saraka ditengah Berkecamuknya kepungan musuh dan berondongan peluru pasukan belanda saat pertempuran berlangsung selama dua hari dua malam dipettung, 22 september 1946.
Andi Mappe Seorang Pejuang Berdarah Bugis ini terkenal dengan sifat heroik nya dan sangat terkenal Sakti, dan paling di takuti dan disegani oleh Belanda saat itu. Bahkan Kesaktian A. Mappe ini sampai Belanda pun mengaku, seperti halnya si Pitung dari Batavia.
Tanggal 14 Agustus 1946, Andi Mappe memimpin patroli ke Kampung Batu – Batu Taraweang Romang, kemudian ke Tondong, akan tetapi Andi Mappe segera menerima laporan dari kepala Kampung Tondong, bahwa rombongan supaya segera kembali ke markas di Mangilu karena masih akan menyerang malam itu juga. Keesokan harinya pukul 04.00 (subuh), satu kompi Pasukan Belanda datang dari tiga jurusan, sedang pasukan Andi Mappe hanya berkekuatan 50 orang dengan senjata 17 pucuk. Musuh datang menyerang dari jurusan Bungoro, Padang Lampe Balocci. Pertempuran berlangsung sehari, pasukan Andi Mappe memberi perlawanan dengan gigih, Di pihak musuh jatuh korban sebanyak 10 orang dan di pihak Andi Mappe gugur seorang pejuang bernama Daeng Palallo. kemudian 17 Agustus 1946, tepat setahun usianya Proklamasi kemerdekaan Bangsa Indonesia, rombongan Andi Mappe ini meninggalkan markas pertahanan di Mangilu, menuju ke Kampung SapiriE Bonto Tangnga (Desa Tabo-tabo). Karena dikejar terus Belanda, pasukan Andi Mappe bergerak menuju Kampung Rumbia, Tanete (Barru saat ini) dan disana menangkap dan menawan empat mata – mata Belanda di Kampung Lica.
Pada tanggal 29 Agustus 1946, terjadilah pertempuran sehari di Manggalung. Satu kompi pasukan Belanda datang menyerang, pasukan Andi Mappe yang hanya beranggotan 75 orang, gugur dua orang dan juga menewaskan 15 penduduk tak bersenjata.
Pada 17 September 1946, Andi Mappe diserang satu kompi pasukan artileri Belanda. Pasukan Andi Mappe yang hanya 80 orang bertahan dan mengadakan perlawanan selama dua hari dua malam. Tak ada yang gugur di kedua belah pihak, hanya seorang anggota pasukan Andi Mappe tertangkap. Setelah kejadian itu pasukan Andi Mappe kembali lagi menuju Pettung (Tanete) dan membangun markas pertahanan disana. Selama di Pettung, Andi Mappe memerintahkan Muhammad Syah untuk menghadang Tuan Petero di kuburan cina. Tak ada persenjataan yang didapat dan hanya membalikkan mobil Tuan Petoro. Pertempuran kemudian berlanjut pada Tanggal 20 September di Lisu (Tanete), selama dua hari dua malam yang dipimpin oleh M Kasim DM, hanya beranggotakan 100 orang. Di pihak musuh gugur 5 orang, sedang di pihak M Kasim DM tertanggap dua anggotanya, dua lainnya mengalami luka - luka.
Lima hari setelah kejadian, pertempuran terjadi di Pettung dan dipimpin langsung Andi Mappe. Disinilah Andi Mappe terkepung oleh musuh dengan berondongan tembakan tak berkesudahan sehingga Andi Mappe berkata pada seorang anggotanya, Syamsuddin Saraka, “Ulebbirangngi Burue ala NajajaE BalandaE, Teasisena Mitai BalandaE”. Di pihak Belanda, jatuh korban 20 orang dan di pihak Andi Mappe, gugur seorang pejuang bernama Mappa. Tanggal 23 September, rombongan Andi Mappe bergerak ke Bulu Matajang, Tanggal 25 September pindah lagi ke Salo Lemo, Bulu Laposo, besoknya ke Bulu Dua / Soppeng.
***
Karena kelihaian mata – mata Belanda, Pasukan Andi Mappe terus menerus dikejar. Pada 14 – 21 Februari 1947, Pasukan HI diserang tiba – tiba di Kampung Paku – Paku. Pasukan Andi Mappe terus dikejar sampai di Bantimurung – Balocci, lalu Patanyameng Maros, masuk ke Tondong Bua’ (wilayah Kabupaten Bone), ke Parang Lombasa dan terakhir di Padang LeangngE. Di setiap penyerangan musuh yang bersenjata lengkap, pasukan HI terus berkurang. Di Padang Leangnge’, Andi Mappe dan pasukannya berpisah dengan pasukan Arung Saharu. Pada saat pasukan Andi Mappe tinggal 10 orang, pada 25 Februari, di Bonti / Padang LeangngE Distrik Balocci, Andi Mappe dikepung dua peleton pasukan Belanda dan sekutu pribuminya dibawah pimpinan Karaeng Naco menyerang gubuk pertahanan Andi Mappe selama tiga hari tiga malam.
Pengepungan selama tiga hari tiga malam di Padang Leangnge’, Balocci inilah yang menewaskan Kapten Harimau Indonesia, Andi Mappe. Tanggal 25 Maret, gugurlah Andi Mappe bersama lima orang anggota pasukannya ditengah muntahan peluru dalam mempertahankan kemerdekaan Bangsa dan Tanah Airnya. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, ia sempat berpesan kepada pasukannya supaya terus mengobarkan semangat perlawanan terhadap Belanda. Terakhir Andi Mappe mengatakan, “Nasaba Iya Sikomemeng Tommi Naeloreng Puang Allah Ta’ala (Sebab saya ini sudah sampai waktunya dikehendaki Tuhan).
Salah seorang Belanda kemudian memenggal lehernya dan bersama pasukannya mengarak kepala Andi Mappe, mempertontongkannya kepada penduduk di Maros, Pangkajene, Bungoro, dan Labakkang. Terakhir kepala pejuang kemerdekaan itu diseberangkan ke Pulau Camba – cambang, sebuah pulau yang tidak berpenghuni, tidak didiami manusia ketika itu, dekat dari pesisir Maccini Baji, Labakkang.
Setelah meninggalnya Andi Mappe, praktis tidak ada lagi yang ditakuti dan disegani Belanda. Pasukan Belanda kemudian melakukan pembakaran 118 rumah rakyat di Kampung Mangilu, 30 rumah di Tabo – Tabo, 98 rumah di Kampung Timbusang, 15 rumah di Pettung – Tanete ( Barru ), dan 30 rumah di Mallawa, Camba. Pembakaran rumah tersebut dilakukan dalam Bulan Agustus – September 1947. Demikianlah rakyat telah kehilangan pejuang kemerdekaannya yang gigih mempertahankan setiap jengkal tanah tumpah darah yang dicintainya. Bagi laskar HI sendiri, perjuangan mereka tetap dilanjutkannya, meski ada satu semangat membaja yang hilang di tengah – tengah mereka.

Komentar
Posting Komentar